Daftar Isi [Tampil]


Sebelum aku bercerita, aku mau disclaimer dulu cerita ini menguras perasaan dan sedikit mengandung bawang. Karena yang aku tuliskan di sini persis mengacak-acak pikiran dan hatiku. Aku menuliskan ini murni kok sebagai tulisan untuk berbagi, akupun berharap tulisan ini menginspirasi kepada para pejuang skripsi.

Tahun ini, tahun dimana aku resmi jadi mahasiswa tingkat akhir. Dan sebagai mahasiswa akhir kita hanya butuh ekstra sabar, super duper kuat, pokoknya harus banyakin doa deh.


Kalau boleh dibilang sebenarnya aku berjuang sendiri, support yang paling kuat itu adalah menangis dihadapan-Nya dan lihat muka orangtuaku. 

Ya, hanya dua itu. 


Kenapa aku bilang berjuang sendiri, aku tidak punya orang terdekat yang paham skripsi ini, ibaratnya aku tidak minta bantuan siapapun masalah skripsi. Trus bermodalkan banyak referensi website dan library kampus.


Kadang aku cuma curhat sama Allah, orangtua, dan orang-orang terdekat. Kadang aku cuma bisa menahan rasa takut, bimbang dan cemas. Loh kenapa, aku takut benar tidak bisa lulus tahun ini. Kalau tidak lulus aku harus bayar uang kuliah lagi dan itu gak murah, aku cuma merasa jadi beban buat orangtuaku.  


Tiba akhirnya saat itu beneran down, aku merasa sangat butuh kekuatan tapi overthinking terus menerus terjadi. Mereka berkecamuk di dalam pikiranku.


"Gimana fah, gak mungkin lulus tahun ini"

"Fah, skripsinya mau sampai kapan revisinya?"

"Udah revisi pun ini kenapa belum juga acc? Padahal cuma sedikit salahnya"

SAMPAI KAPAN??


Serius, aku cuma bisa mengadu ke Allah, aku yakin Allah membantuku. Percayalah semua itu pasti berlalu. Tapi sampai kapan. Pun mau sujud lama-lama karena aku ingin Allah memeluk diriku sambil bilang " Aku selalu ada mendukungmu" Begitu aku berharap seruan Allah berbisik di telingaku.


Tidak perlu menyalahkan keadaan saat ini, biarkan diri kita berdamai dengan keadaan ini.


Judul Pertama yang Ditolak 


Alasannya ditolak ini biasalah, karena judulnya terlalu umum terus yang meneliti juga banyak alias pasaran. Oke aku terima dengan lapang dada judul ini gak bisa dipake. Dan aku memutuskan untuk mencari referensi judul namun tak satupun yang membuat aku yakin bakal diterima. Mana sih judul yang gak umum itu? Karena jurusan akuntansi rata-rata judulnya itu semua, aku gak mungkin lari ke jurusan lain kan.


Masih terngiang sih kalau mencari judul mesti cari yang disukai, terbaru dan punya fenomena/masalahnya. Gitu aja, baru awal nih udah banyak permintaan yang mesti dikabulkan. And then, aku yakin memilih judul ini bakal diterima, karena judulnya menakutkan. Menakutkan tapi aku malah tertantang ya. Bayangkan aja, aku serahkan judul itu ke penguji dan benar beliau menerima alias ACC. Alhamdulillah, tapi gimana kalau aku tidak bisa menyelesaikannya dan buntu di tengah jalan. 


Benar Saja Bingung di Tengah Jalan


Aku dapat pembimbing yang bimbingan mesti offline alias tatap muka. Di satu sisi, aku suka karena bimbingan offline ini lebih mengerti. Namun aku harus bolak balik ke rumahnya. Dan kalau online saat proposal kita salah masih bisa diedit, nah kalau offline gak mungkin dong pasti print lagi dan itu butuh uang buat print, belum lagi kalau halaman salah satu harus print ulang semuanya, begitu terus. Jujur, aku gak mau membebani orang tuaku dengan cara buang-buang uang gini. Karena printer di rumah gak kuat memprint berlembar-lembar, bakal luntur warnanya jika dipaksakan. 


Alhasil, aku bingung gimana caranya gak banyak revisi. Gimana caranya ya? Aku menuliskan sambil membacanya dengan suara sehingga kata perkata rapi gitu. Entah kenapa selalu diperhatikan satu persatu oleh dospem, aku gak tau entah skripsiku terlalu enak dikomentari atau gimana? Kok malah tanda aja dikomentari banget, pokoknya hal-hal kecil gitu deh disalahkan. Tapi semua anak bimbingannya digituin. Dan saat itu, aku berusaha gak membuat kesalahan kecil lagi. Tapi ada saja yang tidak sesuai. 


"Jangan-jangan malah copas skripsi orang"

"Coba kamu baca ini, pas gak sama kalimat ini"


Niat di hati luntur buat merubah sedikit kesalahan ini, siapa yang gak down coba apalagi saat kita udah capek-capek dan hasilnya dibilang seperti itu. Memang kalau di awalnya kita gak kuatin diri, mungkin udah mundur alon-alon nih. Tapi tetap sabar ini ujian menghadapi dospem.


Sakit banget, saat karya kita dibilang copas dari punya orang. Sakit banget pokoknya kalau kita disuruh merubah ini dan dibuat salah lain lagi. Wahh ekstra sabar deh.


Seperti lagu pernah dari Azmi, tapi sakitnya ini lebih sakit saat ditinggal di lagu pernah ini. Karena lagu pernah ini sakitnya melihat doi pergi sama orang lain dan menduga doi akan membagi cinta. Tapi kalau ini malah lebih sakit, karena mau marah gak bisa, mau sabar harus sabar banget, kadang bisa mau berhenti tapi orang tuaku selalu bertanya dan lewat di depanku.


" Gimana bimbingannya?"

" Udah daftar sempro? Kompre?"

" Kapan wisudanya?"


Ahh ini benar-benar tidak enakan banget pertanyaannya. Tapi aku tau mereka juga ikut merasakan apa yang aku rasakan. Mereka gak baik-baik saja saat aku merasa demikian, alhasil pertanyaan itu selalu terlontar. Gapapa, mereka jadi pengingat aku kalau perjuangan ini bukan buat aku seorang saja, tapi buat mereka juga. Ya, gapapa mereka mengingatkanku saat aku terlena, pokoknya semua karena mereka.  


Tiap Minggu Jadwal Sempro, Aku Kapan?


Karena jadwal sempro di kampus punya target waktu dan kapan berakhirnya. Dan wisuda cuma bisa di bulan Oktober dan April. Kalau Oktober ini gak bisa, maka aku harus bayar uang kuliah sampai bulan April. Kalau itu terjadi aku bakal hiatus dari sosial media. Menutup mereka semua, menghindari pertanyaan yang membuatku sakit untuk kesekian kalinya. 


Pokoknya tiap jadwal sempro keluar, saat melihat nama teman-teman, aku gak bisa tidur. Terpikir lagi, bahkan sampai tidak bisa tuk tidak berhenti nangis. Support aku cuma nangis di sujudku dan melihat kedua orangtuaku. Karena aku masih tinggal bersama orangtua, jadi tiap kali mereka lewat aku pengen minta maaf. Tapi aku jadi anak yang pengecut, kata maaf, terima kasih, dan I love you itu sungguh berat diucapkan langsung padahal di hati bergejolak. Ada yang sama? Hehehe toss...


Dan saat teman sebimbingan aku maju satu persatu. Namun beberapa orang lagi termasuk aku masih belum diberikan kepastian, alias belum ACC. Aku mau down untuk kesekian kalinya, apalagi saat pembimbingku bilang.


"Kalau lanjut sempro, jangan ada proposalnya yang salah-salah lagi"


Ya ampun, ini printer aja udah gak kuat kadang bisa salah-salah ngeprintnya apalagi aku yang selalu berusaha mengurangi kesalahan tapi malah makin banyak. Wallahualam, aku gak pernah menyalahkan dospem aku, apalagi diriku sendiri. Semua mahasiswa itu punya tantangan dan masalah tersendiri. Nah, kalau di aku dospemnya susah untuk memberikan kepastian itu. Dahlah,  gak bisa berbuat apa-apa lagi. 


Detik-Detik Terakhir Sempro


Aku benar-benar putus asa, apalagi chatnya gak dibaca sama dospem. Trus berulang kali aku menchat teman-temanku yang belum melakukan sempro juga. Kami sama-sama nangis dong. Ini bukan cengeng ya, tapi keadaan yang lagi pas buat nangis sejadi-jadinya. 


Malam ini rencana aku pergi ke tempat nenekku gagal. Aku yang mau silaturahmi tapi gak jadi. Sebab, air mataku kian deras mengalir. Sampai di titik, aku ditanya sama orang tuaku. Aku yakin kalau sudah seperti ini keadaannya, aku pasti akan nangis lagi. Gak kuat ditanya gitu. Tapi mereka malah mendukungku. 


"Kami tau kamu udah berusaha lebih, Nak. Perbanyak aja berdoa, minta sama Allah. Pasti ada jalannya"


"Aamiin"


Tau gak saat aku curhat begitu, gak tau kenapa hatiku lega banget. Tapi di satu sisi, air mata tetap keluar, mewek dong.


Dan tiap kali aku meminta, memohon jalan terbaik. Aku terus berdoa sembari baca shalawat nabi. Akhirnya keesokan harinya dospem aku balas dan bilang besok ke rumahnya. Aku yakin ini cara Allah membantuku, Dia tau aku sedang kesusahan.


Besoknya aku masih ada revisi, tapi kali ini aku tanpa basa basi langsung bilang ke dospem kalau waktu sempro akan berakhir. 


Baik! 


Keesokan harinya, tiba di rumah dospem, aku sudah di ACC. Antara senang sama kecewa. Senang karena di-ACC, kecewa karena harus menggunakan kalimat terakhir baru di-ACC. Walaupun gitu, setiap shalat aku menangis dan minta dimudahkan. Minta doa dan restu orangtua juga. Tapi Allah tau aku kuat dan bisa menjalaninya. Alhamdulillah aku dapat jadwal sempro hari jumatnya selang beberapa hari setelah di ACC. Waaw.


Dan saat ujian sempro aku diberi dosen yang terkenal killer di jurusanku. Hari sebelum sempro aku mengurus SIM, aku pergi sebelum di-ACC oleh dospem. Jadinya, aku beneran merasa down bakal gak bisa lulus tahun ini. Tapi ternyata beliau menerima proposal aku, dan nama aku langsung keluar untuk jadwal Minggu ini. 


Tau gak manteman? Aku shock di antara beberapa orang yang antri saat mengurus SIM. Salah seorang tercengang melihatku. Aku beneran kaget mendapatkan dosen-dosen tersebut. Gak nyangka, tapi itu sudah harus dihadapi lagi. Setelah SIM aku urus, aku langsung gas motor untuk pulang. Pokoknya buka laptop, buka proposal, buat pertanyaan yang mungkin muncul, dan hafalkan. Terus cara ini aku lakukan, biar gregetnya berkurang.


Dan sebelum ujian, aku shalat Dhuha dulu lanjut minta doa restu orang tuaku juga. 


Akhirnya aku menyampaikan proposal dihadapan penguji dan teman-teman via meet. Dan semua pertanyaan dosen-dosen ini terjawab berkat aku hafalkan kemarin, juga kata teman-temanku yang menyaksikan sempro ini beliau sangat ramah. Aku bersyukur banget, Alhamdulillah Allah selalu ada membantuku.


Sempro Berakhir, Waktu Sebulan Kompre Akan Berjalan dan Berakhir juga


Karena aku berjuang sendiri, mengolah data sendiri, rela begadang demi ngerjain Bab 4 sampai habis. Kalau dipikir-pikir ratusan perusahaan aku ulik laporan keuangan masing-masing, rasanya pengen menyerah dan bilang gak mungkin selesai!


Tapi dugaanku salah, kata Allah tidak ada yang tak mungkin semua bisa saja terjadi.


Sampai aku sendiri pun bilang, kok bisa ya aku menyelesaikannya? Kok masalah dalam mengolah data bisa ya aku selesaikan? 


" Bisa ya kamu sebulan ngerjainnya fah?"

" Kok bisa sih secepat itu?"


Dari mana kekuatan itu datang, dari mana dukungan itu berasal. Aku mampu bukan karena aku hebat, tapi dibantukan oleh-Nya. Saat itu, aku ngulik data sambil mengingat-Nya. 


Aku mau nyerah, mau banget. "Tapi aku tau jalan yang engkau berikan begitu mudah saat aku merasa gak mungkin, benar-benar insecure banget"


Gak mungkin aku bisa mengerjakannya sebulan, tapi semuanya engkau permudah. Gak tau mau berterima kasih seperti apa lagi. Udah pasrah rasanya tapi dukungannya beneran ada loh.


Dospem Sakit Jadinya Digantikan 


Suatu ketika, dospem aku terkena sesuatu yang ditakutkan padahal detik-detik kompre juga. Yaps, beliau terkena covid. Aku dan beberapa orang temanku tidak bisa bimbingan secara offline. Dan bimbingan online pun tidak berjalan. Dosen digantikan oleh ketua jurusan yang juga aku kenali banget. Karena beberapa hal aku sebagai anak organisasi atau Hmj sering berurusan dengan beliau. Dengan begitu, beliau tidak mempersulitnya lagi, aku merasa bahwa begitu Allah memberikan jalan kepadaku. Beberapa kali bimbingan, beliau memberikan ACC juga. Bersyukur banget aku waktu itu. 


Tapi saat dosen mempermudah dan menerima skripsiku ini. Di saat itu pula keadaanku malah sebaliknya, tubuhku jatuh sakit. Memang di luar prediksi, sampai sinyal tubuhku udah ngasih peringatan. Badanku tiba-tiba panas tinggi malah sebelum kompre dijadwalkan. Tubuhku bilang "Udah istirahat sejenak, kamu terlalu push badan kamu, gak baik loh" 


Aku tidak bisa lanjut ujian sidang kalau demamku gak berkesudahan. Dan demamku reda saat seharian aku tidur, minum obat, pun menenangkan diri di kamar. Alhamdulillah juga saat ujian sidang berlangsung aku bisa menyelesaikan dengan baik. 


Yeay, Berakhir Sudah Skripsi Ini


Aku merasakan lega yang teramat dalam, syukur yang berkepanjangan, karena semuanya sudah siap menghantuiku bahkan saat pergi kemanapun ini terpikirkan juga. Jadwal tidurku yang jadi berantakan sehingga bisa diperbaiki seperti semula lagi. Pokoknya, aku mau ngasih hadiah buat diri sendiri. Aku janji kalau udah selesai drama ini, bakal mengajak kemana dan apa saja yang dia mau. 


Beberapa hari setelah lulus ujian sidang alias kompre. Aku menjadwalkan me time sehingga hatiku jadi lebih senang. Seperti melakukan olahraga, jalan-jalan berkelana pake sepeda, pergi ke pantai, merawat diri, merapikan tata letak kamar, mengurangi baju yang gak kepakai untuk disumbangkan, lalu membeli baju baru, pergi berenang, dan hal-hal lainnya yang menyenangkan. Inilah caraku memberikan hadiah buat diri sendiri. 


Tapi satu hal yang selalu aku ingat. Ini memang akhir, tapi bukan akhir dari segalanya. Karena semua permulaan dimulai dari sini. 


Perihal usai kali ini, aku gak mau berhenti belajar dan terus memantapkan diri supaya terbuka lebar pintu menuju jalan meraih mimpiku. Aku tidak mau juga mendapatkan gelar sarjana, hanya sebagai tanda bahwa aku selesai kuliah dan mendapatkan gelar saja, tapi lebih dari itu. Aku ingin lebih baik menjadi hamba-Nya. Jadi manusia yang berguna.


Terakhir, aku cuma bilang Ini semuanya aku rasakan, lewati, kemudian aku tuliskan supaya jadi jejak sejarah kok. Semoga aja menular bahagia ke kalian, Buds. Tak henti-hentinya berterima kasih kepada diriku sendiri yang sudah bertahan dan semangat sejauh ini. Juga terima kasih buat orang tuaku yang memberikan doa-doanya, orang-orang tercinta yang selalu mensupport dan mendoakan aku selalu, serta teman-teman semua di sini yang sedang membaca tulisanku ini, ya terima kasih Buds. Semoga kita semua sukses dan terus semangat menjalani hidup, always happy ya. See you next time, Buds!