Puisi Singkat

https://www.sahabatulfah.com/2018/01/puisi.html
Sastra


"Puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, berakhir oleh kerendahan hati -Goenawan Moehamad"



Puisi utuh/ dikatakan baik

Sebuah upaya untuk menulis kata kaya makna sehingga bisa dinikmati oleh pembaca. Oscar Wilde mengatakan ibarat secangkir kopi, puisi akan dinikmati aromanya sebelum mencicipi rasanya. 

Komposisi Utama 

Ada empat komponen dasar berpadu secara harmoni:

  1. Keutuhan. Menjadi satu kesatuan bentuk dan isi dari awal sampai akhir . Ada ’keterkaitan’ dan ’keterikatan’ yang erat diantaranya (kohesi, koherensi) serta dalam menggunakan kata bersenyawa (konsistensi, cataloque). Semua unsur dalam puisi bahkan tanda baca harus dipilih agar saling gotong-royong mendukung kekuatan ide mengarah ke titik tertentu saja.
  2. Kelenturan, puisi setidaknya nyaman ketika dibaca, tidak kaku. Kenyamanan berhubungan oleh penggunaan bahasa enak didengar pun halus. Gaya bahasa (majas), diksi serta ‘pengucapan’ sebagai gaya. Ukuran sederhananya, puisi baik ibarat air, mampu mengalir hingga jauh, melewati sungai berakhir di lautan, menyatu.
  3. Pembaruan, bukan barang baru bagi dunia atas karya sastra. Jutaan kata lahir, ribuan penyair hadir. Tema bisa jadi sama, begitu kata-kata yang dipakai, dapat membedakan ‘bagaimana cara mengungkapkannya saja’. Demikian harus dihindari peniruan secara langsung (plagiat), frasa sudah basi (klise). Pada tahap ini, kita dipaksa berjuang mencari sesuatu baru untuk pembendaharaan kata yang dipunya dari pengalaman membaca banyak karya orang lain.
  4. Kesempurnaan, dalam kepenyairan terdapat istilah lisensia puitika, di mana punya alasan untuk tidak setia pada aturan yang ada (baku) dengan khas, tujuan dan efek puitis yang digunakan. Namun ‘ketidak-setiaan’ itu bisa dimaafkan selama ‘sengaja’ atau penuh kesadaran/ pengetahuan. Hal tersebut berhubungan dengan EYD, penulisan benar atau tidak adanya kesalahan ketik (typo).

Seluruh komponen dipadukan akan menjadi puisi yang baik.

Borges menyampaikan paling pahit dari penyair pada saat kenyataan harus diterima “Berapa nilai karyamu sekarang?” Itu benar, seseorang tak mampu menjawab pertanyaan ini jujur, kecuali nurani sendiri. 

Para pencipta puisi mempunyai tanggung jawab penuh dalam setiap karya yang ditulisnya. Penyair mengalami kepahitan seperti ini akan paham bahwa semua pujian /cacian ialah sebuah kritik ataupun sentimentik. Setiap lontaran dari orang sebagai bentuk lain dari apresiasi/motivasi supaya terus semangat atas proses kreatif; teguh prinsip, setia proses dan tidak tergesa-gesa.

Adakalanya keberanian menggunakan “budaya banding” atau “tanding” istilah Emha Ainun Najib. Secara langsung kita lupa karena membanding-bandingkan karya sendiri dengan milik orang lain melalui pengamatan yang mendalam. Sampai di sini, sebenarnya untuk menjaga (gairah) kepenyairan sangatlah mudah, hanya dengan konsisten membuat karya bernilai setiap saat. 

Pengertian Musikalisasi Puisi 

Adalah suatu model puisi yang terfokus pada pengubahan makna menjadi syair lagu yang diaransemen melalui iringan musik. Pada era kehidupan candi Borobudur abad ke 8 M, ada beberapa gambar alat musik. Gambar instrument tersebut diantaranya kendang, suling bambu, kecapi, dawai gesek atiau petik serta lonceng. Hal tersebut membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal alat musik dan tentunya lagu yang disenandungkan berupa kata-kata indah seperti puisi.

Apalagi di masa lalu, karena musik hanya dipresentasikan pada acara-acara penting seperti upacara adat, perkawinan, kerajaan dan lainnya. Kemudian diperkuat lagi pada era kerajaan Demak sekitar abad ke 15 yaitu syair Sunan Kalijaga yang dilagukan dengan alunan gending. Syair-syair Sunan Kalijaga diantaranya adalah Ilir-ilir, Gundul pacul yang dibacakan dengan alunan musik gending atau bonang yang berupa tembang.

Selanjutnya budaya tembang dan musik yang dinyanyikan para sinden bisa dilestarikan ketika digelar pertunjukan wayang. Semua bait-bait yang dinyanyikan para sinden berupa syair-syair indah yang berisi  kata-kata tentang puji-pujian dan juga mantra yang mengandung daya mistis. Hal ini membuktikan bahwa musikalisasi puisi bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia khususnya dipulau Jawa sebagai penduduk terbanyak.

Pada tahun 40-an, musikalisasi puisi modern mulai berkembang ditengah masa penjajahan Belanda. Kala itu seorang pengubah lagu Cornel Simanjuntak mencoba memasukkan puisi-puisi karya Sanusi Pane kedalam musikalisasi puisi dan menghasilkan beberapa karya musik seriosa. Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 60-an, ketika pemusik yang bernama FX Soetopo mencoba puisi karya penyair Kirdjomulyo dan melantunkannya kedalam musik puisi. Dari kolaborasi tersebut memang bisa menghasilkan puisi dan lagu indah, namun kurang populer.

Pada masa yang sama di kota Yogyakarta juga sedang ramai-ramainya para penyair Malioboro membacakan puisi yang disertai musik. Puisi karya Umbu Landu Paranggi dibacakan dengan musik oleh anak-anak didiknya, diantaranya Emha Ainun Najib, Ebiet G Ade dan lainnya. Selanjutnya Emha Ainun Najib atau Cak Nun sering menggelar musik puisi di beberapa daerah di Yogyakarta dan sekitarnya bersama pagelaran teater. Pagelaran musik puisi Cak Nun semakin berkembang ke kota-kota lainnya diantarnya adalah kota Malang, Surabaya dan Makassar.

Sedangkan Ebiet G Ade memulai solo karier menjadi penyair yang melantunkan puisi dengan alat musik yang bertema tentang religi dan alam. Musikalisasi puisi yang dibawakan Ebiet menuai sukses dan mendapatkan tempat di hati penikmat musik dan sastra di Indonesia. Pada era selanjutnya sekitar tahun 70-an, penyair Taufik Ismail menjalin kerjasama dengan kelompok musik Bimbo untuk melantunkan lagu religi dan rohani. Musik puisi paling terkenal yang dinyanyikan kelompok musik Bimbo yaitu berjudul “Ada anak bertanya pada bapaknya

Bentuk-bentuk musikalisasi puisi


1. Musikalisasi Puisi Iringan

Adalah bentuk puisi yang terfokus pada iringan permainan alat-alat musik. Fokus utama dari model ini yaitu keahlian olah vokal dari pembaca puisi. Sama halnya dengan pendapat Danardana (2003:57) yang menyatakan bahwa puisi dibawakan dengan iringan permainan alat-alat musik. 

2. Musikalisasi Puisi Total

Merupakan model musikalisasi yang berubah total menjadi sebuah lagu dengan kongkrit dalam bentuk musik seutuhnya.

Langkah-Langkah Musikalisasi Puisi


Berikut ini adalah cara atau langkah-langkah membuat musikalisasi puisi:

a. Menikmati Musikalisasi Puisi

Apakah kalian pernah mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade ataupun Bimbo? Jika didengarkan lirik lagu mereka nyanyikan terasa begitu sangat puitis. Pada dasarnya lirik-lirik musiknya adalah puisi yang dimusikalisasi atau disajikan dalam bentuk lagu yang memiliki irama. Berikut ini adalah teks syair lagu “Tuhan”.

Tuhan 

Oleh: Trio Bimbo

Tuhan, tempat aku berteduh
Di mana aku mengeluh
Dengan segala keluh
Tuhan, Tuhan yang Maha Esa
Tempat aku memuja
Dengan segala doa
Aku jauh Engkau jauh
Aku dekat Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa berpadu
Memilih Puisi yang Akan Dimusikalisasi
Sebenarnya semua puisi itu dapat dimusikalisasi. Namun, sebaiknya kalian memilih puisi-puisi yang sederhana yaitu puisi yang memiliki syair yang mudah untuk diucapkan agar mudah dinyanyikan.

Berikut ini merupakan salah satu contoh puisi sederhana yang dapat dimusikalisasikan :
Tuhan
Karya: Hasbiono K.
Kauberi aku mata untuk melihat
Kauberi aku telinga untuk mendengar
Kauberi aku kaki untuk berjalan
Kauberi aku akal untuk berpikir
Tuhan,
Kini aku telah melihat bumiMu
Kini aku telah mendengar kata-kataMu
Kini aku telah berjalan menyelusuri bumiMu
Dan telah kupikirkan semua tujuanMu
Alangkah munafiknya diri ini
Bila tak bersyukur padaMu
Alangkah berdosanya hati ini
Bila keangkuhan ada pada diriku
Oh, Tuhan
Maafkan hambaMu

Memahami Isi yang Dimusikalisasi

Setelah menentukan puisi, kalian harus mampu memahami dari kata dengan tepat agar irama lagu yang dipilih sesuai dengan isi puisi. Untuk memahami sebuah puisi, kalian dapat berpedoman pada pertanyaan berikut.

  1. Apa tema puisi tersebut?
  2. Suasana bagaimanakah yang menjiwainya?
  3. Hal apakah dikemukakan pengarang melalui puisinya?
  4. Adakah bunyi vokal atau konsonan dominan maknanya?
  5. Kata-kata di dalamnya menurutmu sulit untuk dipahami?
  6. Menentukan Irama yang sesuai dengan suasanamu?

Selanjutnya tentukan nada, irama, serta tempo yang sesuai dengan isi dan suasana puisi, maka akan tercipta perpaduan bunyi yang indah antara puisi dan alat musik pengiringnya. Manfaatkanlah iringan musik sederhana seperti gitar, harmonika, atau seruling. Namun, jika tidak ada, kita dapat menyanyikan secara acapela atau bernyanyi tanpa musik.

Menampilkan Musikalisasi Puisi


Setelah semua sudah siap, maka siap ditampilkan. Dalam penampilan musikalisasi, unsur terpenting yang harus diperhatikan adalah kejelasan vokal dan penghayatanmu (ekspresi) saat menyanyikan puisi tersebut dan juga yang diutamakan tetap isi larik-larik puisi. Musik pendukung yang harus senada dengan isi puisinya.

Cara membuat musikalisasi puisi yang baik :

1. Mulai pahami makna. Pahamkan puisi itu akan terserap jika seorang penyair bisa menjelaskan makna tersirat ataupun tersurat.

2. Baca dan dengarkan
Lakukan baca berulang2 dan perdengarkan, apabila intonasinya belum pas kita dapat merubah bagian mana yang kurang indah.

3. Hayati saat membaca
Saat kita berlatih, apa yang kita dengar sama dengan apa yang orang terima, makanya hayati puisi sebagimana mencintainya. 



Sekian dulu materi dari tulisan blog ini. Terima kasih udah berkunjung. See you, jangan lupa baca juga blogku yang lainnya. Sekian materi puisi ini, semoga dapat bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya, semoga betah mengunjunginya kembali. 

No comments:

Terima kasih atas kunjungannya, don't forget tinggalkan jejak dan saling follow ya, thanks 🙏😊

Theme images by dfli. Powered by Blogger.