Dari Gambut ke Meja Makan : Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan
Hai semua, hampir semua karhutla sekarang ini sulit dipadamkan. Pernahkah kita bertanya mengapa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini begitu sulit untuk dipadamkan? Ya, api tak hanya membakar lahan yang ada di atas permukaan, melainkan tanpa terlihat oleh kita api terus menjalar ke permukaan bawah tanah. Sementara itu, kondisi asap yang terus menyelimuti permukiman yang membuat kita kesulitan bernapas. Tentunya hal ini menjadi pengingat bagi kita bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dengan alam ini.
Terlebih saat kebakaran terjadi di lahan gambut. Mungkin selama ini kita lebih sering menghubungkan makanan dengan petani, pasar, atau harga bahan pokok. Padahal, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kondisi alam tempat kita hidup. Salah satunya adalah ekosistem gambut. Gambut yang sama-sama kita tau memliki karakteristik bersifat basah, sehingga ketika dibiarkan kering maka yang tidak terlihat seperti di bawah permukaan melepas karbon secara masif dan sulit dipadamkan, harus menunggu beberapa tahun bahkan puluhan tahun dulu untuk benar-benar padam. Karena lahan gambut yang terbakar maka proses pemadamannya pun menjadi jauh lebih sulit.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa dampak karhutla ini tak main-main, bukan hanya hutan yang terbakar mengakibatkan udara yang tercemar, namun ada satu hal yang penting dan dikhawatirkan: bagaimana nasib pangan kita jika kerusakan lingkungan terus terjadi?
Dimulai saat hutan ribuan hekter terbakar, tentu tanah, air, dan keanekaragaman hayati merasakan dampaknya. Terlebih hubungannya sangat erat dengan kehidupan kita, termasuk menyediakan sumber pangan bagi manusia. Ketika ekosistem rusak, maka sudah pasti keberlangsungan pangan pun ikut menghadapi tantangan.
Lantas, adakah cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi perubahan iklim sekaligus menjaga ketersediaan pangan di masa depan?
Dalam Eco Blogger Squad Online Gathering bertema “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan”, kita diajak melihat bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan pepohonan yang terbakar. Ada keanekaragaman hayati, kehidupan masyarakat, dan keberlanjutan pangan yang ikut berkaitan di dalamnya.
Lantas, bagaimana hubungan ketiganya? Yuk kita bahas, yukk !
Mengenal Gambut, Ekosistem yang Tak Bisa Dipandang Sebelah Mata
Berdasarkan data Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia, di Indonesia terdapat 16,4 juta hektare dari total 24,2 hektare yang telah diklasifikasi memiliki kerentanan kebakaran tingkat tinggi hingga sedang. Tentunya, ini menyadarkan kita untuk terus berhati-hati terhadap karhutla pada gambut.
• Lahan gambut dan sekitarnya menyimpan kekayaan hayati, termasuk puluhan jenis tanaman sumber karbohidrat, umbi-umbian (seperti sagu, singkong, dan ubi), serta tanaman pangan alami.
• Pengaturan Air (Regulator Hidrologi):
Gambut yang basah berfungsi seperti spons raksasa yang menjaga ketersediaan air bersih sepanjang tahun, yang sangat vital untuk pertanian dan irigasi tanaman pangan.
• Ketahanan dan Adaptasi Iklim:
Pangan lokal dari ekosistem lahan basah memiliki adaptasi tinggi terhadap cuaca ekstrem. Keberagaman ini membuat masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu jenis makanan pokok saja (seperti beras), sehingga rantai pasokan pangan tidak mudah rapuh saat terjadi gagal panen gambut terbentuk dalam waktu yang sangat panjang, biasanya kondisi tergenang atau minim oksigen. Ekosistem gambut memiliki karakteristik unik yaitu pada lapisan bahan organik yang tebal menyimpan karbon dalam jumlah besar dan menyediakan habitat bagi beragam jenis tumbuhan serta satwa.
Gambut juga berperan dalam tata air, kemampuannya untuk menyimpan air membantu keseimbangan hidrologis di kawasan sekitarnya. Namun, ekosistem ini memiliki kerentanan tersendiri ketika dikeringkan. Gambut yang mengering akan lebih mudah terbakar, dan api dapat menjalar di bawah permukaan tersebut sehingga sulit diprediksi maupun dipadamkan.
Oleh karena itu, menjaga gambut berarti tak hanya sekadar mempertahankan kawasan gambut tetap basah. Melainkan juga sedang menjaga fungsi ekologis yang penting bagi kehidupan.
Karhutla: Ketika Kerusakan Alam Membawa Dampak Berantai
Karhutla tak hanya dapat menghambat aktivitas manusia, melainkan dampaknya banyak dan berantai. Apalagi lahan gambut yang mengering tidak berhenti ketika api melahap vegetasi saja. Melainkan kebakaran dapat mengganggu kesehatan, habitat satwa liar juga ikut hilang bahkan punah.
Pertama, asap dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Partikel asap yang menempel pada permukaan daun dapat mengurangi cahaya yang diterima tanaman. Dalam kondisi tertentu, paparan polutan juga dapat mengganggu proses fotosintesis dan fungsi daun. Jika paparan berlangsung lama, pertumbuhan tanaman dan produktivitasnya berpotensi menurun. Besarnya dampak bergantung pada tingkat paparan, jenis tanaman, dan kondisi lingkungan.
Kedua, kebakaran dapat merusak lahan pertanian dan sumber daya yang dibutuhkan untuk produksi pangan. Api bisa membakar tanaman, merusak kebun, serta mengganggu ekosistem yang mendukung pertanian. Kerusakan lahan dan perubahan kondisi tanah setelah kebakaran juga dapat menyulitkan proses pemulihan pertanian.
Ketiga, asap menghambat aktivitas petani. Ketika kualitas udara memburuk, petani dapat mengalami kesulitan bekerja di lahan karena risiko kesehatan dan terbatasnya jarak pandang. Proses penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan bisa terganggu apabila kondisi tersebut berlangsung lama.
Keempat, distribusi pangan dapat ikut terdampak. Asap tebal yang mengurangi jarak pandang dapat menghambat perjalanan di jalan raya maupun transportasi lainnya. Jika gangguan ini terjadi di wilayah produksi atau jalur distribusi pangan, pengiriman hasil pertanian ke pasar dapat terlambat.
Ketika gangguan produksi dan distribusi terjadi bersamaan, pasokan beberapa bahan pangan dapat tertekan. Apabila pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga pangan berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat menjadi beban tambahan bagi masyarakat, terutama keluarga berpenghasilan rendah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Sehingga hubungan antara karhutla, asap, dan pangan tidak hanya berkaitan dengan tanaman yang terpapar asap. Ada rangkaian dampak yang melibatkan kerusakan lahan, produktivitas pertanian, kesehatan petani, hingga distribusi dan keterjangkauan harga pangan yang pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan saja, melainkan juga ancaman terhadap ketahanan pangan. Karena itu, upaya mencegah kebakaran hutan dan menjaga ekosistem gambut merupakan bagian penting dari usaha melindungi sumber pangan dan kehidupan masyarakat.
Biodiversitas dan Pangan yang Saling Terkait
Biodiversitas atau sering disebut dengan keanekaragaman hayati. Diantaranya mencakup keragaman makhluk hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, hingga mikroorganisme beserta ekosistem tempat mereka hidup.
Lalu kita bertanya, apa hubungannya keanekaragaman hayati dengan makanan di meja makan? Yaps, hubungannya sangat dekat. Keanekaragaman hayati mendukung berbagai proses alam yang menopang kehidupan, termasuk siklus unsur hara, pembentukan tanah, penyerbukan pada banyak tanaman, serta keseimbangan ekosistem.
Ketika ekosistem mengalami kerusakan, fungsi-fungsi tersebut juga dapat terganggu. Kebakaran yang terjadi berulang kali dapat memperburuk kondisi habitat dan menghambat pemulihan vegetasi.
Dampaknya terhadap pangan memang tidak selalu langsung terjadi atau sama di setiap wilayah. Namun, ketika kerusakan lingkungan memengaruhi lahan produksi, sumber daya alam, atau mata pencaharian masyarakat, keberlanjutan pangan dapat ikut menghadapi tantangan. Artinya, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang banyaknya makanan yang tersedia. Kita juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan dan sumber daya alam yang menopang produksi pangan dalam jangka panjang.
Dari Gambut ke Meja Makan: Pangan Juga Bergantung pada Alam
Kalau membicarakan pangan, kita sering langsung membayangkan makanan pokoknya yaitu nasi. Coba perhatikan isi piring kita hari ini. Ada nasi hangat, lauk kesukaan, dan mungkin sayuran sebagai pelengkap. Bagi sebagian besar keluarga Indonesia, rasanya makan belum lengkap kalau belum bertemu nasi. Bahkan, tidak sedikit yang merasa belum benar-benar makan meskipun sudah menyantap roti, mi, atau makanan lainnya.
Aku pun merasa bahwa nasi sudah begitu dekat dengan keseharian kita. Sejak kecil, kita terbiasa menjadikannya makanan pokok yang hadir hampir setiap hari. Namun, pernahkah Sahabat Ulfah bertanya, bagaimana kalau suatu hari kita mulai mengenal kembali makanan pokok selain nasi?
Indonesia sebenarnya memiliki 77 jenis sumber karbohidrat lokal yang bisa menjadi bagian dari menu keluarga. Salah satunya adalah singkong, tanaman yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang pangan, kehidupan petani, budaya masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
Sahabat Ulfah, siapa yang masa kecilnya pernah menikmati singkong rebus, singkong goreng, atau getuk buatan keluarga?
Singkong atau Manihot esculenta merupakan tanaman umbi yang telah lama dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat di berbagai wilayah Indonesia. Tanaman ini dapat diolah menjadi beragam hidangan, mulai dari makanan rumahan hingga produk pangan bernilai ekonomi.
Sayangnya, dalam kebiasaan makan sebagian masyarakat, singkong terkadang hanya dianggap sebagai camilan atau makanan selingan. Padahal, singkong juga bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat dalam menu utama, berdampingan dengan sumber pangan lainnya. Singkong bisa disajikan sebagai pengganti nasi dalam satu waktu makan, misalnya dengan lauk ikan, telur, tempe, tahu, dan sayuran. Dengan begitu, kita tidak hanya mengenal singkong sebagai gorengan teman minum teh, tetapi juga sebagai bagian dari hidangan keluarga.
Tentu saja, singkong tidak harus menggantikan nasi sepenuhnya. Tujuannya bukan menghilangkan kebiasaan makan yang sudah ada, melainkan memperluas pilihan pangan agar kita tidak terpaku pada satu jenis sumber karbohidrat saja. Sebab, keberagaman pangan adalah salah satu kekuatan yang kita miliki.
Penutup
Selama ini, nasi menjadi bagian penting dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. Namun, ketika sebagian besar kebutuhan karbohidrat bergantung pada satu jenis pangan, gangguan pada produksi maupun distribusinya dapat memberikan dampak luas saat terjadi karhutla maupun iklim kritis.
Perubahan iklim, misalnya, dapat meningkatkan risiko kekeringan, banjir, dan perubahan pola musim yang memengaruhi kegiatan pertanian. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat mengganggu lingkungan, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi di wilayah terdampak.
Bukan berarti setiap kebakaran hutan akan langsung menyebabkan kelangkaan beras. Dampaknya bergantung pada lokasi, skala kejadian, kondisi pertanian, dan berbagai faktor lainnya. Namun, situasi tersebut mengingatkan kita bahwa sistem pangan berhubungan erat dengan kondisi lingkungan. Disinilah diversifikasi pangan menjadi penting.
Dengan pilihan yang lebih beragam, masyarakat memiliki lebih banyak kemungkinan untuk menyesuaikan pola konsumsi dengan potensi daerah, ketersediaan bahan pangan, dan kebutuhan keluarga. Namun, diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti nasi dengan singkong. Kita juga perlu memastikan makanan yang dikonsumsi tetap memenuhi kebutuhan gizi. Singkong terutama menyediakan karbohidrat, sehingga perlu dipadukan dengan sumber protein, sayuran, buah, dan makanan lain yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Ketahanan pangan bukan hanya tentang memiliki makanan untuk hari ini. Kita juga perlu memikirkan bagaimana pangan dapat terus tersedia, terjangkau, bergizi, dan diproduksi secara berkelanjutan.

.jpg)
.jpg)










No comments:
Terima kasih atas kunjungannya, dont forget tinggalkan jejak (Komentar akan dimoderasi) dan saling follow ya, thanks 🙏😊