Mangrove Jaga Pantai, Tapi Siapa Sangka Perannya Sebesar Ini?

Mangrove-Jaga-Pantai-Tapi-Tak-Hanya-Itu

Selama ini kita mengenal mangrove sebagai penjaga pantai. Tapi benarkah hanya itu yang bisa diberikan mangrove untuk kehidupan kita? Atau ada cerita lain di balik mangrove itu?


Hai Sahabat Ulfah, siapa yang sering mengira hutan mangrove itu sekadar kumpulan-kumpulan pohon pelindung di tepi laut saja? Padahal jika diperhatikan dengan seksama hutan mangrove ini kaya manfaat serta fungsi, lho. Mulai dari ekosistem sebagai benteng alami pesisir hingga mendukung keberlangsungan pangan masyarakat sekitar. Ekosistem mangrove ada bukan pada kondisi yang mudah bagi tumbuhan lain. Ngga kebayang hidupnya berada pada kondisi tanah yang berlumpur, memiliki kadar garam yang tinggi bahkan dipengaruhi oleh abrasi atau pasang surut air laut. Akan tetapi akar-akar mangrove mampu menahan dan menjaga aliran pantai agar ekosistemnya tetap terjaga. Bahkan dapat membantu menangkap sedimen berupa endapan lumpur, kerikil hingga pasir pantai.


Bahkan, tak hanya itu mangrove juga menjadi benteng alami bagi pesisir pantai. Terlebih saat kondisi sekitar pesisir pantai tak menentu. Di kawasan pesisir pantai hutan mangrove dapat menjadi rumah pula bagi biota. Jadi mahkluk hidup memiliki tempat tinggal yang sangat nyaman di sana, mendapatkan makanan yang enak, serta berkembang biak agar ekosistemnya tak punah. Kondisi ini tentu tak hanya ikan saja, tapi ada udang, kepiting, moluska, bahkan organisme lainnya yang hidupnya bergantung di hutan mangrove. Apalagi sebagian besar mangrove ini telah dipergunakan oleh makhluk hidup sebagai tempat sumber pangan.


Melalui webinar Eco Blogger Squad (EBS) di mana berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF) dengan tap-in Momentum Bangkok Climate Action Week, pada tanggal 25 September 2026 kemarin. Webinar ini mengangkat tema "Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove Raja Ampat" yang diadaptasi dari salah satu di 40 cerita dengan inisiatif "Cerita Perubahan". Dan salah satu ceritanya tentang Wiwayai Steve dari Raja Ampat.


Tak hanya itu, di Sumatera Barat pun ada cerita yang ingin aku bagikan di sana. Di wilayah Puncak Mandeh, tepatnya Pedada yang mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai pelindung dan sumber pangan bagi makhluk hidup. 


So, yuk disimak cerita dari artikelku kali ini.



 Ketika Potensi Hutan Mangrove di Raja Ampat Diperbincangkan

 

Dari webinar EBS  pertama di tahun 2026 ini, mangrove masih menjadi topik hangat yang dapat diperbincangkan. Karena kenapa? Karena di Raja Ampat secara utuh keberadaan mangrove dapat memenuhi segala pangan masyarakat. Bayangkan mangrove Raja Ampat yang tak cukup hanya dilihat dari keindahan alam bawah laut saja, tapi kini juga dilihat dari keanekaragaman hayatinya. Sama-sama kita tahu, Raja Ampat merupakan salah satu pemilik area mangrove paling utuh di dunia. Tentunya beragam variates unik flora dari 2713 pulau. Yang terdiri dari empat pulau terbesar yaitu Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. 

keanekaragaman hayati


Raja Ampat memiliki 874 jenis tanaman dari 116 suku, serta khusus untuk tanaman jenis pohon ada sejumlah 360 jenis dari 83 suku. Keberadaan mangrove sangat mendukung keanekaragaman hayati di sana. Secara kita sering mendengar mangrove sebagai penjaga pantai. Tapi apakah hanya sebatas penjaga pantai saja?


Tentunya hal inilah yang kemudian disampaikan oleh Kak Steve sebagai Manager program PKPRA dan Kak Dhaniel sebagai Program Officer TAF. Tentang Mangrove dengan peran gandanya, perihal peran mangrove yang sangat besar pengaruhnya terhadap penghidupan, bahkan pengelolaan mangrove untuk menjamin ketahanan pangan makhluk hidup. Semua itu, menjadi topik yang sangat penting untuk dibahas.



 Mangrove dengan Peran Gandanya yang Sangat Penting


Ternyata mangrove tak hanya memiliki satu fungsi, tapi ada fungsi ganda. Di balik akar-akar mangrove yang kokoh, akar tersebut dijadikan sebagai pelindung sekaligus rumah bagi biota laut. Namun ketika ekosistem ini dijaga dengan lebih baik, manfaatnya bisa jauh lebih besar. Mangrove bisa mengisi piring di atas meja kita. Artinya mangrove bisa menjaga ketersediaan pangan dan kehidupan pesisir ikut terpenuhi.

Mangrove-sumber-pangan


Dalam webinar seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, mangrove dapat menyediakan sumber pangan bagi masyarakat pesisir. Hasil yang didapatnya pun berupa laut non ikan yaitu kepiting dan karang. Hasil laut keduanya ini menjadi sama-sama penting bagi masyarakat. Pertama, dapat menjadi sumber protein hewani, dan kedua menjadi sumber penghasilan.


Dengan berintegrasi mangrove dengan makhluk hidup. Tentunya keberadaan mangrove tak dapat disia-siakan. Dalam pemaparannya, kak Steve mengatakan "Kita orang Papua jarang sekali makan nasi, oleh karenanya yang bisa kita andalkan ya sagu atau hutan mangrove ini" 


Ya, dari hasil olahan mangrove inilah masyarakat Papua menopang hidup. Terlebih  hampir seluruh masyarakat Papua mendapatkan penghasilan atau bermata pencarian sebagai nelayan. Masyarakat tentu sangat bergantung hidupnya pada ekosistem mangrove di pesisir pantai.


Dan disampaikan satu-satu hutan mangrove terbesar di Papua yaitu Papua Barat tepatnya di Kampung Friwen dan Yanbaser. Kini hutan mereka sedang tidak baik-baik saja, akibat dari pengambilan besar-besaran untuk pembangunan pariwisata maupun resort. Kak Steve mengatakan "Di Papua jika kitaorang menjaga hutan maka perkuat perempuan, karena dari perempuan Papua mereka hidup" 


Menariknya, mulai dari pengelolaan hingga pengolahan mangrove, segalanya dilakukan oleh perempuan. Maka tak jarang dari mereka percaya orang Papua terutama perempuan harus kuat, karena ketika perempuan kuat tentunya bangsa akan kuat. 


Oleh karenanya Kak Steve bersama perempuan-perempuan berdaya berupaya sebaik mungkin melakukan rehabilitasi. Karena hutan Doredor, tempat mereka mencari makan itu sedang butuh perhatiannya. Mereka ingin hutan mangrove ini kembali baik seperti semula, sehingganya mereka  melakukan pembibitan hingga menanam kembali mangrove yang telah dirusak oleh pembangunan wisata tersebut. Mereka melakukan program-program ekonomi dan sosial desa yang bernama PAPeDA. Di mana ruang ini tempat mereka membangun kembali harapam dam cita-cita mereka untuk kemajuan hutan mangrove di Papua. 



  Pengelolaan Hasil Mangrove di Raja Ampat


Pengelolaan hasil olahan mangrove dapat menjadi makanan dan minuman unik. Menariknya, dari buah mangrove ini akan menjadi bahan dasar tepung dari jenis Bruguiera Gymnorrhiza. Dipaparkan lewat materi yang disampaikan oleh Kak Daniel yaitu ada sekelompok anggota KUPS Sinya Lep di Desa Friwen yang mengolah tepung dasar ini menjadi olahan cemilan kripik hingga makanan bergizi untuk pasar lokal.

olahan-mangrove


Tak hanya itu, ada sari buah yang kemudian juga diolah menjadi minuman tradisional. Dari minuman ini ternyata mempunyai manfaat yang tak kalah pentingnya. Minuman ini menjadi sangat baik untuk kesehatan tubuh karena akan meningkatkan kekebalan tubuh kita. Selain itu, ternyata mangrove bisa juga diolah menjadi madu. Bunga mangrove menyediakan nektar, kemudian lebah datang, maka dihasilkanlah madu. Maka dari madu inilah sumber ekonomi alternatif didapatkan. Karena madu ini didapatkan langsung dari habitatnya, maka hasilnya pun berkualitas tinggi. Tentunya olahan madu di Raja Ampat ini juga baik buat tubuh, salah satunya mengandung antioksidan spesifik dari vegetarian kelestariannya.

Yes, keren banget kan?


  Ketahanan Pangan Mangrove Berkelanjutan untuk Masa Depan  


Satu hal yang terbesit di benakku saat mengikuti pembahasan tentang ekosistem mangrove ini. Yaitu bagaimana produk-produk hasil olahan dari mangrove ini akan terus berkelanjutan untuk masa depan? Ternyata di sinilah diperlukan marketing dan digitalisasi IT. 


Dari webinar kali ini didapatkan insight yang baru bagiku. Ternyata ada beberapa pendekatan agar produk dapat dipasarkan hingga sampai pada masyarakat luas yaitu dilakukan percepatan distribusi. Selain itu juga, perempuan-perempuan berdaya bekerjasama dengan TAF ini menjalin kolabolarasi dengan industri-industri untuk menjamin masa depan masyarakat.  Lebih dari itu, pemanfaatan digitalisasi IT pun dilakukan. Pemanfaatan e-commerce untuk pemasaran semakin meluas. Sehingga produk dapat semakin dikenal oleh semua kalangan. 


Oleh karena itu, katahanan pangan mangrove tak sebatas pengolahan dan pengelolaan dengan baik saja. Melainkan juga proses distribusi atau pemasaran melalui digital harus dilakukan terus menerus.  



Menilik Pedada di Puncak Mandeh, Inspirasi Hutan Bagi Pesisir Selatan

Pedada-Inspirasi-Hutan-Sumbar


Puncak Mandeh merupakan salah satu kawasan di Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Puncak Mandeh memiliki alam hampir mirip dengan Raja Ampat. Banyak masyarakat bilang Puncak Mandeh adalah kembarannya Raja Ampat. Tentunya yang jadi sorotan di Puncak Mandeh keindahan alamnya yang indah, gugusan pulau-pulau yang berjejer, dan potensi alamnya yang juga menakjubkan. Tak hanya itu, Puncak Mandeh memiliki 389 hektare hutan mangrove yang tumbuh di dalamnya. Salah satu tumbuhan mangrove yang hadir di pesisir kawasan Puncak Mandeh ini ialah Pedada. 


Dan menilik Pedada tentu akan semakin mendalam kita pelajari, ternyata Pedada ini memiliki bahasa dari literatur botani, yang dikenal sebagai Sonneratia Caseolaris. Ia salah merupakan satu pohon mangrove yang menginspirasi di Pesisir Selatan. Bukan karena tumbuh di pinggir perairan saja, melainkan hasil dari buah pedada yang memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat Puncak Mandeh. 


Jika dilihat dari bentuk yang cukup khas dan bagian dasarnya dikelilingi kelopak bunga. Namun di balik itu, masyarakat jarang memakannya langsung, karena rasanya yang cenderung asam. Kalo kita diperhatikan lagi, jenis dari akar Pedada yakni jenis Bakau Rhizophora yang tumbuh tegak keluar dari permukaan tanah. Pedada hidup di tanah berlumpur, yang mana di akarnya  inilah ada kabar baik yang kita dapatkan. Dari akarnya ada kadar oksigen yang cukup rendah, sehingga ketika kondisi di laut tidak stabil maka akar Pedada mampu mempertahankannya sehingga keberadaan Pedada sangat dirasakan sekali oleh makhluk hidup di sana.



Dari Pedada, Alam dan Ekonomi Berjalan Bersama


Dari Pedada, kita belajar tentang ekosistem mangrove yang memiliki peran lebih luas bagi kehidupan pesisir. Karena ketika kita memanfaatkan hasil mangrove berupa Pedada. Kita juga perlu melakukannya dengan sangat bijak agar manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi tetap bisa dinikmati pada masa yang akan datang.


Di sisi lain, kita dapat melihat ketahanan pangan berbasis mangrove tak sekadar alam yang bisa menghasilkan sesuatu untuk kita konsumsi saja. Tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki perekonomian masyarakat di sana. Kita mendapatkan manfaat tanpa kehilangan sumbernya. Bayangkan akan sepengaruh apa buat kehidupan kita, terlebih ketika kita dapat mendapatkan manfaat ekonomi dari ekosistem yang kita jaga tersebut dengan baik. 


Bulan Oktober 2026 ini, Bangkok Climate Action Week menjadi ruang untuk berbagi berbagai solusi menghadapi perubahan iklim demi kehidupan yang lebih baik. Namun, solusi tidak selalu lahir dari ruang-ruang diskusi. Ia juga tumbuh dari kepedulian dan aksi nyata masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Lewat webinar tentang ketahanan pangan berbasis mangrove, saya menemukan satu contoh menarik: pedada, buah yang tumbuh di kawasan mangrove.

Selama ini, ketika mendengar kata mangrove, mungkin yang terbayang adalah akar-akar yang menjaga garis pantai dari abrasi. Padahal, di balik ekosistem tersebut, ada potensi lain yang tak kalah penting. Pedada menunjukkan bagaimana mangrove juga dapat berkaitan dengan pangan, penghidupan masyarakat, dan peluang ekonomi lokal.

Dari sini saya semakin melihat bahwa menjaga mangrove bukan hanya tentang mempertahankan pohon di pesisir. Kita juga sedang menjaga ekosistem yang menyediakan sumber pangan dan membuka kemungkinan kehidupan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

Mangrove bukan sekadar pelindung pantai. Di sana, ada pangan. Ada penghidupan. Dan ada masa depan. 


Bangkok Climate Action Week, saya kembali diingatkan bahwa menghadapi perubahan iklim membutuhkan lebih dari sekadar diskusi. Kita membutuhkan aksi.



Penutup


Dan ternyata, semua hal baik untuk menjaga mangrove bisa dimulai dari masyarakat dulu. Dari orang-orang yang mengenali potensi pangan lokal seperti pedada. Dari upaya mengolah hasil alam menjadi sesuatu yang bernilai tanpa menghilangkan sumbernya.


Sebab ketika satu ekosistem dijaga, manfaatnya bisa berjalan ke banyak arah terutama ketahanan sumber pangan. Mangrove melindungi pesisir. Ekosistemnya menjadi rumah bagi berbagai biota. Pedada menjadi salah satu potensi pangan. Dan masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan penghidupan dari alam yang mereka jaga.


Di titik ini aku merasa, pembicaraan tentang mangrove sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Ia juga tentang apa yang kita lakukan terhadap lingkungan yang ada di sekitar kita.Tentang apakah kita masih mau menjaga sesuatu yang mungkin manfaatnya tidak langsung kita rasakan hari ini.


Karena bisa jadi, mangrove yang kita jaga sekarang bukan hanya untuk melindungi pantai hari ini. Tetapi untuk memastikan anak-anak kita kelak masih mengenal ekosistem pesisir yang hidup, masih menemukan sumber pangan lokal, dan masih memiliki pilihan untuk membangun kehidupan tanpa harus kehilangan alam yang menjadi rumahnya.


Mangrove bukan sekadar pelindung pantai. Di balik akarnya ada kehidupan. Di balik pedada ada potensi pangan. Dan di balik ekosistem yang kita jaga, ada masa depan yang sedang kita titipkan kepada generasi berikutnya.


Mungkin, inilah bentuk aksi iklim yang paling dekat dengan kita:


menjaga apa yang masih kita punya, sebelum semuanya menjadi sesuatu yang hanya bisa kita ceritakan kepada anak cucu.

No comments:

Terima kasih atas kunjungannya, dont forget tinggalkan jejak (Komentar akan dimoderasi) dan saling follow ya, thanks 🙏😊

Theme images by diane555. Powered by Blogger.