Suka Duka Menjadi Blogger: Kisah Nyata Bertahan di Blog dan Alasan Mengapa Kamu Harus Memulai
Suka Duka Menjadi Blogger: Kisah Nyata Bertahan di Blog dan Alasan Mengapa Kamu Harus Memulai
Hai Buds, seperti biasanya rutinitas aku saat menatap laptop adalah membuka dasbor blog, entah kenapa ada rasa hangat yang menyelinap. Sudah bertahun-tahun aku mendedikasikan waktu, pikiran, dan jemariku untuk merawat rumah digital ini. Dan tepat bulan Juni ini blogku berumur 6 tahun. Yeayy!!!
Nah, jika boleh berkata jujur dan bicara apa adanya, tahun ini rasanya cukup menantang bagiku. Juga bagi teman-teman blogger lain, sepertinya. Biasanya tiap bulan bahkan minggu email atau pun WA rame dari tawaran kerjasama hingga sponsored post namun apalah daya kini tidak sederas dulu lagi. Tapi kabar baiknya ada angka statistik yang membuatku terus happy, ternyata blogku masih dicari dan dibaca oleh orang lain.
Kemarin, ada juga yang memintaku untuk menjual blog, inilah yang membuatku menghela napas cukup panjang. Sebuah pesan email yang menawar blog ini untuk dijual. Dan ternyata banyak teman-teman blogger lain yang mendapatkan email yang sama. Ya mau gimana, mau job tidak serame dulu pun, gak mau banget rasanya blog utama ini aku jual ke orang lain. Gimana ngga, kebayang rasanya perjuangan blog ini gimana. Walau terkadang aku jarang mengurusnya tapi tetap saja jika ada waktu senggang aku akan selalu membuka blog ini. Memang semua perjuangan blog ini ngga bisa diganti dengan berapapun nominalnya, makanya aku abaikan pesan email ini.
Ohya, jika boleh bilang satu hal yang tentang sebuah perjalanan panjang ini, aku pasti mengatakan blog ini jauh lebih besar daripada sekadar mesin pencari rupiah.
Baca juga : Alasan memilih blogger
Buat kamu yang penasaran cara menjadi blogger pemula atau kamu yang masih ragu untuk memulai blog. Maka melalui tulisan ini menjadi surat terbuka bagi kamu. Sebuah kisah nyata tentang suka duka menjadi blogger yang bertahan di tengah gempuran zaman digital. Yuk disimak terus ya!
Membuka Kenangan: Masa-Masa Emas yang Mengubah Hidup
Sebelum kondisi seperti saat ini datang, aku telah melewati masa-masa yang luar biasa. Masa-masa yang menjadi perjalanan panjang bagiku. Baik ketika memulai blog, bahkan ketika saat ini bertahan pun. Di mana dari blog ini begitu banyak manfaat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Melalui proses menulis, aku belajar banyak hal yang mengubah caraku berpikir. Di dunia nyata, aku tidak mempelajarinya. Dimulai dari aku belajar memahami dasar-dasar SEO secara otodidak, mengasah kemampuan content writing. Tak hanya itu, blog membuka jalan kesempatanku untuk bertemu dengan orang-orang hebat di luar sana.
Blog ini telah memberiku ruang aman untuk bercerita, sekaligus memberikan apresiasi finansial yang sempat membuatku bangga luar biasa. Lebih dari itu, blog adalah mesin waktu pribadiku. Di sinilah jejak pemikiran dan proses tumbuh dewasaku terekam abadi. Manfaat-manfaat inilah yang sudah terlanjur hingga melekat serta membentuk diriku yang sekarang ini.
Jadi, ketika badai itu pun datang, apakah aku harus langsung berbalik arah dan berhenti? Jawabannya: Tentu Tidak.
Lalu, bagaimana aku bisa bertahan dan apa alasannya?
Masa Depan Blog dan Kenapa Aku Bertahan?
Terlihat ya begitu banyaknya blogger yang akhirnya perlahan-lahan berhenti, sayang sih tapi ya itu pilihan mereka. Jika kita perhatikan, hampir sebagai besar blogger pasti berkecimpung di dunia vlogger. Tapi belum tentu dengan vlogger.
Di era digital ini, semua dapat berubah cepat. Kini saatnya video pendek diediting dengan mudah, di mana-mana. Bahkan algoritma media sosial terus berganti, dan banyak orang berspekulasi tentang bagaimana masa depan blog di era AI (Kecerdasan Buatan)
Sebagai blogger yang sudah cukup lama berkecimpung, aku ingin memberi tahu kalian satu rahasia dan percaya "Artikel berbasis teks yang ditulis dengan hati akan selalu memiliki pembaca setianya sendiri" Dan aku tetap percaya itu, selama blogger masih ada pembaca setianya maka blogger akan tetap bisa berkarya.
Ohya, inilah alasan mengapa aku bertahan.
Alasanku Tetap Bertahan
Alasanku tetap bertahan sebenarnya sangat sederhana. Berikut alasannya:
1. Kepemilikan Penuh (Personal Branding)
Di tengah media sosial yang dapat berubah-ubah saat ini. Blog tetap menjadi alasanku untuk tetap merasa menjadi diri sendiri bahkan merasa pulang. Aku bisa menuangkan semua isi pikiran dan perasaanku tanpa merasa dibatasi. Blogku bisa juga menjangkau siapa pun dan kapan saja.
Ya, blog adalah aset digital milikmu sendiri. Di blog aku tak bergantung pada algoritma yang berubah-ubah. Aku bisa menampilkan tulisan yang aku inginkan, menceritakan hal apa saja dengan detail tanpa takut dinilai lai, aku bisa menyusun cerita, mengarangnya dan membangun identitasku alias personal brading seperti yang aku inginkan.
2. Menghubungkan Jiwa Lewat Storytelling
Jika di media sosial kita dituntun untuk menampilkan semuanya dengan ringkas. Tapi di blog, apapun cerita bisa dituangkan dengan utuh tanpa dipotong-potong. Karena sejatinya, blogger butuh ruang untuk bernapas melalui imajinasi tulisannya.
Menulis blog adalah caraku merawat kewarasan. Ya, kewarasan!
Aku bisa menulis dengan jujur, pembaca pun merasa ditemani, dimengerti, malah merasa didengarkan. Di saat yang sama ada seseorang yang berkata "Aku juga merasakan hal itu, tulisanmu membuatku tidak sendirian"
Di sinilah terlihat blog itu bukan sekadar menulis. Tapi blog adalah sesuatu yang sulit digantikan oleh video singkat apapun, karena dapat menghubungkan jiwa dengan jiwa.
3. Investasi Jangka Panjang
Aku percaya setiap tulisan yang kutulis adalah investasi, yang nantinya akan aku panen di masa mendatang. Ini bukan soal nomial saja, tapi tentang suatu portofolio yang kukumpulkan dan aku tulis dengan banyak manfaat. Bisa jadi artikel aku bertambah satu dan tambah lagi maka akan jadi traffic untuk mendatangkan pembaca.
Tulisan di blog akan terus hidup, meski berbulan-bulan bertahun-tahun pun. Karena jika setiap tulisan yang ditulis itu relate dengan keadaan seseorang, pasti akan selalu dicari.
Tips Memulai Blogging Tanpa Takut Gagal
Jika teman-teman yang sedang membaca blog ini dan baru berniat menjadi blogger baru, inilah beberapa tips penting berdasarkan pengalaman nyataku:
1. Temukan 'Why' yang Kuat Sejak Awal
Jika tujuan utamamu hanya uang atau job instan, kamu akan mudah kecewa saat menemui fase sepi. Mulailah karena kamu punya cerita yang ingin dibagikan, ilmu yang ingin didokumentasikan, atau hobi yang ingin disalurkan.
2. Jangan Takut Menulis Secara Personal
Dunia maya saat ini penuh dengan artikel yang kaku dan robotik. Sebenarnya yang dicari pembaca saat ini adalah sentuhan manusia. Maka dari sini kita bisa ceritakan gimana pengalamanmu, bagikan opinimu. Itulah yang membuat blogmu menjadi lebih unik.
3. Konsisten Belajar
Saat ini, kamu tidak perlu langsung jadi ahli. Cukup pelajari cara membuat artikel yang rapi, menggunakan kata kunci secara natural, dan menjawab kebutuhan pembaca. Selebihnya kamu bisa nikmati saja proses tumbuhnya.
Penutup
Tahun ini mungkin menjadi tahun ujian untuk konsistensiku di dunia blog. Tapi akan tetap disyukuri, apalagi tiba-tiba ada job yang datang, hehehe aamiin. Namun, tidak dapat dipungkiri jika kenyataannya berbeda dengan tahun sebelumnya, job-job ada saja. Meski kenyataannya begitu, aku tau bahwa blog ini telah memberikan kehidupan dan sudut pandang beda bagiku. Aku tetap bertahan dan tetap membuka laptop untuk tetap mengetik. Karena aku tahu, setelah fase seperti ini ini, akan selalu ada cerita baru yang layak untuk dituliskan.
Untuk kamu yang baru mau melangkah menjadi blogger, lanjutkan saja. Ini bukan tentang seberapa cepat kamu menghasilkan uang, melainkan seberapa konsisten kamu merawat pembacamu.
Yuk, semangat dan mari mulai menulis!








Aku merasa banyak blogger pasti pernah mengalami fase semangat naik turun. Kadang artikel yang kita buat dengan penuh usaha justru sepi, sementara yang dibuat santai malah ramai. Tapi memang kalau sudah suka menulis, rasanya selalu ada alasan untuk kembali membuka laptop dan mulai mengetik lagi. Semangat terus untuk terus berkarya
ReplyDeleteUlfah, uraian kamu soal mengapa menjadi narablog di masa ini bagus banget. Semoga bisa jadi motivasi yang lain juga 😊
ReplyDeletewaaah terharu, walo di nego unk dijual tapi tetap bertahan dengan kepemilikan tunggal ya mbak. Sama ding, akupun Temukan 'Why' yang Kuat Sejak Awal di blog ini. jadi tiap tahun tetap bayar domain kwkkwk :D
ReplyDeleteBener banget, blog itu seperti mesin waktu. Kadang sebelum tidur aku buka blog tuk baca lagi kisah aku saat traveling ke suatu tempat. Dan kadang aku baca sebuah tulisan yang aku sendiri mikir "eh, aku pernah nulis kayak gini yah?"
ReplyDeleteWah, suka duka yang ditulis ini benar-benar mewakili perasaan banyak blogger. Memang nggak selalu gampang, tapi kepuasan saat tulisan bisa bermanfaat buat orang lain itu yang bikin nagih. Makasih ya sudah berbagi ceritanya, semangat terus buat kita semua!
ReplyDeleteSemangat mbak, masalah yang mbak hadapi adalah umum dialami banyak blogger. Karena kondisi teknologi dan zaman yang berubah banyak teman blogger yang tidak menulis lagi, apalagi tawaran menulis berbayar juga sepi sekarang. Di antara mereka ada yang beralih dari menulis ke video.
ReplyDeleteYuups betul banget mbak...Blog itu seperri rumah kedua bagi pemiliknya. Seperti saya juga, membuka blog berarti membuka pintu rumah. Kita bisa ngapain aja disana, bebas banget. Mulai dari manata rumahnya hingga mengisinya dengan berbagai cerita khas sehari² ala blogger. Kalau saya sih merasanya saat menulis artikel di blog itu seperti sedang berbicara dan mengobrol dengan dashboard....setelah kegiatan menulis selesai, rasanya plong dada ini.
ReplyDeleteAku senyum-senyum sendiri waktu baca bagian blog itu bukan sekadar mesin pencari rupiah. Rasanya relate banget. Memang sekarang kondisi blogging sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu, tapi justru di situ kelihatan siapa yang memang menulis karena suka dan siapa yang hanya mengejar tren. Aku juga setuju kalau blog itu seperti rumah sendiri. Mau algoritma media sosial berubah berkali-kali, tulisan di blog tetap menjadi aset yang bisa terus dibaca kapan saja. Semoga semakin banyak orang yang berani mulai ngeblog, bukan karena cepat menghasilkan, tetapi karena ingin meninggalkan jejak pemikiran dan cerita yang bermanfaat.
ReplyDeletekebagian e-mail juga ya, hehehe. saya sih via wa langsung dan ofkors saya tolak. karena setelah saya tanya, ternyata nantinya blog saya dipakai adsensenya, hanya itu aja! hanya adsen nya aja, lah terus kontennya begimana? Udahlah, gak jadi dijual, meski resah jadi blogge rjaman now kalau lihat dari sisi monetisasi ya, ahaha. jadi, yaaaa tetep ngeblog bahkan dua blog. Setidaknya blog inikah warisan ya mba, dan tempat kita belajar, bertumbuh serta aktualisasi diri. gak hanya soal blognya sih, tapi blogger tuh membawa relasi, ada komunitas dan teman-teman dunia maya yang udah terjalin bertahun-tahun, Dan itu lebih mahal dari tawaran harga jual blog ke si penawar itu.
ReplyDeleteiya nih aku juga ada baca beberapa rekan blogger yang blognya ditawar buat dibeli. Aku pribadi kayaknya belum siap deh ngejual blog yang ada walaupun jobnya sudah makin sedikit soalnya ada banyak banget cerita terekam di blog ini
ReplyDeleteSalah satu temanku bahkan dari awal membuat blog uda ada proyeksi mau menjualnya di kemudian hari...jadi beliau memilih nama blog yang diikuti dengan nama kota dimana tempat ia tinggal. Rasanya semacam investasi yaa.. dirawat dengan baik lalu ada yang berani membelinya dengan harga mahal dan dilepaskan.
ReplyDeleteTapi buatku, blog tetap tempat ternyaman untuk menuangkan ide dan beropini secara personal dengan bebas.
Semoga kita semua tetap membaca dan menulis secara aktif yaa..
Masyaallah mbak baca ulasanya diatas berasa lagi disemangati sesama bloger hehe. Akupun merasakan hal yang sama. Job bloger tahun ini tidak sederes tahun tahun kemarin. Yah meski kita (bloger) tetap membayar kontrakan domain tiap tahun tapi aku merasa menulis di blog itu seperti healing supaya tetap waras.
ReplyDeleteTerimakasih ya mbak sudah menghadirkan tulisan sangat menginspirasi