Hal-Hal yang Membuat Sedih dan Bahagia

Terima Paket Komplit Dirimu, Mau Senang atau Sedih Rasanya Keduanya Tak Bisa Terpisah

Hal-Hal-yang-Membuat-Sedih-dan-Bahagia

     Seperti kalimat yang selama ini aku yakini bahwa terima perasaan kita baik perasaan sedih atau pun senang yang datang menghampiri. Kala sedih aku bakal percaya kesedihan itu tak akan selamanya menetap di jiwa, kala senang pun aku juga yakin bahwa kesenangan ini tidak akan selamanya. Lain dari itu, pastinya kalau ditanya apa hal-hal yang membuat hatiku sedih dan bahagia maka jawabannya akan banyak.

    Meski berada di perempatan usia kini atau bahasa kerennya masa "Quarter Life". Dihadapkan pada masa krisis quarter life ini membuat kita sering membanding-banding diri sendiri dengan orang lain. Padahal kita jauh lebih berharga. Bayangkan saja, jika saat ini kita menerima diri apapun yang dirasakan maka selalu ada alasan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Karena penting melihat diri kita dari diri sebelumnya, bukan membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. 

      Baik, aku ingin sharing hal-hal yang membuatku sedih dan bahagia. Sejatinya, aku menyampaikan dan menuliskan pesan ini karena aku sudah menerima baik dan kurangnya perasaan ini. Bahkan saat ini, aku merasa sangat baik jika dibaca dan bermanfaat tulisan ini bagi orang lain. Kira-kira apa yang membuat aku sedih dan bahagia, daripada penasaran simak selengkapnya ya.

Hal-Hal yang Membuat Sedih dan Bahagia


1. Bahagia saat Makin Dewasa dan sangat Menikmat Hari-hari, Sedih saat makin Dewasa makin berkurang Teman Bercerita

    Bersyukur karena bisa melewati hari-hari yang katanya saat dewasa ini dimana fase quarter life akan berlangsung. Masa-masa dimana manusia berperang dengan dirinya sendiri, pun bagaimana manusia selalu mengikuti apa kata orang saja dan kurang percaya dengan dirinya sendiri. Tapi untuk diriku, dalam keseharian aku akan berusaha menghabiskan waktu dengan hal-hal atau kegiatan yang produktif. Sehingga pemikiran buruk yang ingin menggelabuiku tidak membuatku terjerumus karena sudah diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Kadang orang tipe-tipe pemikir seperti aku memang jika ingin pikiran buruk menghantui maka mereka akan melakukan sikap yang positif saja. Dan terpenting menjadi diri sendiri itu lebih baik ketimbang overthinking dengan teman-teman yang jauh lebih sempurna daripada kita di fase perempatan usia ini. Justru aku melihat perbedaan saat aku di masa dulu dan masa sekarang yang sudah lebih baik.

    Namun saat dewasa ini, kita sedang butuh teman buat bercerita. Nah, kita sadar bahwa teman-teman satu per satu sudah berkurang karena mereka mempunyai prioritas lain sekarang. Saat awal-awal aku merasa sedih, terlebih saat pandemi dimana saat manusia sedang berjuang dengan dunia bahkan untuk diberikan kesehatan saja sudah beruntung sekali kita. Bagaimana mungkin kita membebankan cerita pada teman-teman saat semua keadaan kritis begini. Lewat menulis di blog inilah manfaatnya aku rasakan, aku merasa mendapatkan teman buat bercerita setidaknya kala teman-teman yang lain tidak dapat mendengarkan cerita kita tapi lewat dunia internet ini kita bisa membuat tulisan hingga mendapatkan pembaca yang bisa menjadi teman cerita kita juga.     

2. Sedih karena sedikit Waktu dengan Orangtua, Senang karena tidak Merepotkan Mereka lagi

    Sedih karena begitu sering menghabiskan waktu di pekerjaan saat ini, aku yang selama pandemi pasti full time bersama mereka. Mereka pun sangat merasa bahagia aku di rumah karena memang aku akan selalu berusaha melakukan pekerjaan rumah yang bisa dibantu. Sekarang ini, melakukan pekerjaan rumah bisa saja dilakukan lebih awal dari waktu biasanya. Akan tetapi waktu bersama orangtua makin sedikit karena aku disibukkan dengan kegiatan lain.

    Senang karena aku tidak lagi merepotkan mereka karena merasa jadi beban ketika di rumah saja. Jujur, aku termasuk anak yang tidak mau melakukan hal ini bahkan kalau terpaksa pun aku merasa sangat bersalah. Ya ampun, makin dewasa ini rasanya ingin sekali melihat mereka bahagia saja tapi belum kulakukan. Semoga nanti aku bisa memberikan kebahagiaan kepada mereka, aamiin. Semoga sahabatulfah juga begitu!

3. Senang karena sudah Dewasa, Sedih karena Usia Bertambah Jatah Hidup Berkurang

    Senang ketika sudah beranjak dewasa, sebab semoga begitu (aamiin) menjadi manusia yang lebih bijaksana dan lebih baik dari sebelumnya. Menjadi dewasa, kita mesti memahami diri sendiri dan jujur dalam bersikap. Ketika dewasa kita harus percaya diri sebab mesti menghadapi fase-fase yang sering dibikin bingung atau pun ragu dengan pilihan hidup. Sehingga di setiap langkah kita, kita memang lebih baik bijak dan sudah lebih yakin dengan diri sendiri.

    Sedih karena setiap ulang tahun, usia semakin bertambah tapi jatah hidup berkurang. Sementara itu, ibadah masih jauh dari sempurna (mudah-mudahan bisa lebih istiqomah beribadah baik sunnah, tak hanya wajib saja). Duh jadi sendu... Nah, sebagai manusia yang ingin hidup berbahagia di dunia dan akhirat selalu berharap bisa berbuat baik kepada orang lain dan melakukan kebaikan untuk diri sendiri. 

    Suatu hari harapanku buat diri sendiri dan sahabatulfah semua, semoga bakal merasakan haru sekaligus bahagia karena saling memperbaiki diri menjadi lebih baik. Semoga hal-hal baik terus menghampiri kita, boleh sedih tapi sekadarnya saja. Karena setiap air mata akan tergantikan dengan senyum bahagia. Aamiin ya robb. Terima kasih semua. 

Post a Comment

0 Comments