Pengalaman Volunteering dan Ikut Andil Menjadi Bagian Kegiatan Positif


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh dan selamat pagi. Kali ini aku mau cerita mengenai pengalaman volunteering ke Mentawai. 

Bagaimana ikut andil menjadi volunteer itu?  Apa saja kegiatan selama di Mentawai? Banyak pertanyaan teman semua untuk pengalamanku melewati lautan luas itu. Luar biasa banget dari awalnya deg-degan hingga segala macam rasa mulai bermunculan. Segalanya bakal aku bagiin tentang perjalananku bersama teman-teman di sana.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Volunteer Mentawai


Alasanku pertama sekali ingin ke Mentawai hanya menggapai satu impianku menjadi volunteer semasa kuliah. 

Yap, aku ingin jadi volunteer. 

Padahal untuk diberi izin oleh orangtua adalah suatu hal yang mustahil karena melintasi lautan luas dengan waktu sekitar 12 jam. Minggu itu, aku mendekati dan berbicara bersama orangtua. Perasaan takut dan cemas akan permintaanku bakal ditolak secara mentah. Namun mereka cukup berbesar hati mengiyakan, rasa syukur atas permintaan itu terkabulkan. Tapi sebenernya tidak segampang itu loh, dari hari ke hari, bulan ke bulan yang lalu aku sudah mengatakannya. Seperti naik rollercoaster persetujuannya baru diterima. 

Semalam hari aku mempersiapkan bekal, baju, makanan ringan untuk dimakan di atas kapal, perlengkapan selama di sana. Tak ada doa aku untuk malam itu kecuali aku bisa merasakan naik kapal sejauh itu. Aku dari paginya sudah berberes karena takut akan ada barang yang ketinggalan. Siangnya, aku mencari makanan bahkan jalan-jalan dan aku kelupaan bahwa harus tiba di pelabuhan kapal itu sejam sebelumnya, keberangkatan kita. Aku diantar oleh abang yang bukan kandung dan kita sudah dekat, diantar dengan menggunakan mobilnya yang melaju kencang. Kita mengira pelabuhan tempat kapal ke Mentawai itu berlayar ada di Teluk Bayur. Alhasil, aku salah menduga ternyata pelabuhannya adalah pelabuhan Bungus, bayangkan dari pelabuhan Teluk Bayur ke Bungus itu ada sekitar 10 kilo lagi dan normalnya memakan waktu 45 menit. Sementara kapal berangkat jam 7 malam, sekarang sudah lewat setengah 7. Wallahulam, aku tidak tahu mobil itu kecepatannya berapa tapi yang pasti mobilnya sudah di atas ngebut yang selama ini aku rasakan. Semua teman-temanku kalang kabut, tapi aku menenangkan dan aku bilang aku akan tiba sebelum jam 7. Entah keajaiban apa yang didatangkan Allah tepat jam 7 mobil kami sudah di depan pelabuhan Bungus. 

Malam itu air mata menetes perpisahan karena meninggalkan Padang, telpon kian berdering juga akan padam karena sinyal tak akan didapatkan di sana, perasaan cemas dan hati kacau karena ada angin begitu kencang dan hujan mulai turun di luar. Malam itu pandangan aku sedih dan kosong melihat orang di seberang kapal cukup haru dan nangis sebab perpisahan. Kita harus mengiklaskan bunyi sirine kapal yang pertanda kapal akan berlayar. Malam itu, kami melaksanakan solat dan berdoa sembari menatap jendela kapal. Hujan begitu kencang. Berdiri untuk solat pun tergopoh-gopoh sebab air lautan agak terasa. Setelah itu, kami makan. Kami tidur di atas kasur kapal yang sudah disediakan. Dingin, kugunakan jaket dan kaus kaki. Ada yang tidur dengan bantal dan ada yang dengan tas termasuk aku. 

Sekitar jam 7 lewat seperempat pagi. Kapal tiba di Pelabuhan Tua Pejat. Dengan selamat, alhamdulillah. Karena malamnya, sudah makan. Paginya kami sarapan dengan teh saja di warung sekitaran pelabuhan itu. Duduk-duduk di dekat warung, bertemu dengan seorang guru SD di pelosok Mentawai. Mendengarkan ceritanya yang menakjubkan. Betah tinggal di sana. Masyarakatnya ramah, sudah seperti sepupunya sendiri katanya. Beliau seorang guru dianggap seperti presiden kedatangannya, wah kagum dengan jiwa hangat penduduk di sana. 

Kapal kami akan berangkat kembali ke desa Sioban jam 10 pagi. Beralih ke kapal kecil, kapal yang tidak ada kasur dan asiknya kami bisa duduk menikmati suasana di pojok depan kapal bersama bule-bule. Kami bercanda. Bernyanyi bareng. Melihat lautan bebas, ikan-ikan yang menari, ubur-ubur merapung dengan indah. Semua terasa menakjubkan. Indah sekali. Kapal kami nyampe akhirnya di Sioban jam 12 lewat seperempat. Lucunya, kami membawa barang-barang yang muatannya melebihi energi kami, kami tetap semangat memindahkan muatan barang tersebut.  Kami membawa roti-roti, makanan-makanan selama tiga hari, baju-baju untuk dibagikan yang berkarung-karung jumlahnya, ada pot bunga juga yang berkardus-kardus isinya, ransel kami yang tak kalah gedenya. Tanpa di duga ada satu barang untuk mengajar kami, seperti hiasan origami dan gunting nyaris kami lupa mengangkutnya. Kapal kecil sudah berlayar kembali, membawa kelucuan di tepi pantai. Semburat bibir kami tertawa, saling pandang-pandangan. Satu barang telah tertinggal. Apa boleh buat, tapi setelahnya ada seorang teman kami lupa membayar kopi di atas kapal tadi. Kami menyimpulkan itu sudah imbalan atas kejadian yang ada. 

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Sioban, Mentawai

Welcome to Desa Sioban

Mimpiku sederhana. Nyampe di rumah tempat kami bakal tinggal. Bertemu dengan adik-adik di SD 01 Sioban sana. Dan makan enak bersama teman-teman. Sebagian dari kami naik di mobil box dengan semua barang yang tadi. Ini kami narsis foto ria di depan pintu masuk desa Sioban. Jalanan kiri kanan ada kapal-kapal yang sudah usang. Rumah-rumah penduduk yang sederhana. Kami berjalan kaki menuju tempat tinggal. Senyum ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak menyusuri hati kami. Mereka ternyata benar-benar ramah. Kami sampai rumah tempat kami tinggal. Begitu mengalir kami seperti kehidupan biasanya, mandi bergantian, solat, sambil menunggu kami membereskan barang-barang dan kami langsung makan siang.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Makan Bersama

Pada ketua RT/RW kami meminta izin, kami membutuhkan izin juga dan membuat surat dengan printer yang kami bawa dari Padang. Kami sudah berbagi tugas, ada yang membuat hidangan makan, minum, buat surat, ada yang mengantarkan surat, ada yang masih mabuk pun istirahat, ada yang memotret kegiatan, ada yang memotong kertas kado, menyusun hadiah, melipat-lipat origami sembari bertanya dengan adik-adik di sana tentang bahasa Mentawai, ada yang memastikan ruangan/ SD untuk kami mengajar besoknya. Tugas kami begitu kami nikmati. Di belakang rumah setiap sore, pantai hanya berbatas tembok kecil dari rumah. Dan kami duduk, berayun-ayun di atas Hammock, tidur-tidur di atas pasir dan matras, bercerita dengan anak-anak kecil, momotret indahnya pantai dan kami bahagia sekali.  Malam pun kami breafing dan memastikan besok kegiatan kami ke SD berjalan lancar.  Alhamdulillah, malam ini kami tidur dengan nyenyak. 

Tibalah saatnya, kami bersiap-siap.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Volunteer Mentawai

Kami memakai baju merah sebagai panitia, membawa bekal untuk mengajar, segala macam kebutuhan kami angkut paginya dari rumah ke SD. Kebetulan rumah jaraknya sangat dekat dengan tempat kami mengajar. Rasa semangat pengen ketemu adek-adek, rasa gembira ingin memberikan ilmu kami, pokoknya semua rasanya berkumpul dalam energi bahagia dan sangat ceria. Kami pikir sudah paling awal datang, tapi mereka lebih awal lagi dan di sambut dengan barisan yang rapi. Mereka bersiap-siap senam pagi, mengajak kami gabung, dan kami akan memperkenalkan kedatangan kami ke sini. Kami berpencar-pencar sembari melemparkan senyuman manis pagi ini. Kami terharu atas kedisiplinan mereka. Terharu atas kesederhanaan mereka meskipun segala keterbatasan di sekolah ini. Kami bergabung dengan kelas yang kami ampu, sedangkan aku mengambil kelas 3. Kami juga memperkenalkan diri masing-masing dan ikut senam bersama mereka. Selanjutnya kami memandu mereka menuju kelas, kami masuk kelas dan menjadi guru mereka dengan modal yang kami persiapkan kemarin.

Baca juga : menyemangati jiwa dalam berorganisasi

Kami memperkenalkan budaya, mata uang, presiden, peta Indonesia.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Pohon Impian

Ditutup kelas dengan sangat berkesan yaitu menempel cita-cita mereka di pohon impian yang telah kami sediakan. Semoga impian mereka terwujud baik itu polisi, tentara, dokter, pramugari, guru, pengusaha dan semua cita-cita mereka sangat hebat. Segera tercapai ya adek-adek, aamiin. Kegiatan di kelas kita akhiri dengan memberikan hadiah kepada mereka yang aktif. Banyak rasa baru yang diajarkan karena mereka kami tahu menjadi seorang guru, kami tahu rasa sabar dan rasa penyayang, dan liku-liku menjadi sosok yang berjasa itu. Kegiatan selanjutnya adalah di lapangan atau di luar kelas, main game bareng, seru-seruan bareng. Dan kegiatan kami akhiri dengan foto bareng. Foto bersama di depan sekolah, pemandangannya sangat indah di depannya terbentang laut yang cantik sekali. Kami sangat terharu, kegiatan kami lancar, guru-guru dan anak-anak SD sangat bersemangat dengan acara kami. Alhamdulillah, kami memberikan kenang-kenangan, penghargaan. Ya yang paling berkesannya, mereka memberikan kami pengalaman yang sangat luar biasa indahnya, senang untuk dikenang. 

Kami makan kerupuk sate di depan sekolah merayakan kemenangan kami, acara kami sukses. Ternyata semua persiapan kami terbayarkan dengan acaranya berjalan dengan sempurna. Tak hanya itu, setiba di rumah kami mesti mempersiapkan acara selanjutnya, malam pentas seni. Kami mendekor ruangan, ruangan serbaguna yang letaknya tak jauh dari SD tepatnya di depan SD itu. Kami membersihkan ruangan, menyapu, menghias-hias, mengatur meja juri, bangku penonton, lampu hias panggung, panggung acara depan, bagian pintu dihias dengan anyaman pohon kelapa. Semua kami sibuk mengurusinya. Kami berharap acaranya berjalan dengan baik dan meriah tentunya. Acara dimulai pukul 7 malam. Sementara itu, pukul 6 anak-anak SD baik SD terdekat bahkan SD yang jauh dari sana sudah datang bersama orangtua mereka. Kami lagi-lagi kagum dengan kedisiplinan mereka, mereka antusias sekali. Kami tak menduga bahwa ruangan yang sangat besar itu penontonnya berlimpah sampai ke lapangan, bahkan banyak penonton yang tak dapat bangku dan air minum.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Pentas Seni

Sangat kreatifnya mereka, penampilan demi penampilan begitu mengagumkan, mereka benar-benar mempesona dengan dance, tarian khas mereka gunakan dengan sejumlah pakaian adat mereka kenakan, semua ide sangat sempurna.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Pakaian Adat Mentawai


Para juri pusing memikirkan siapa yang berhak mendapatkan juara, penonton sangat antusias sekali, memberikan tepuk tangan yang heboh, bahkan mereka membawa tikar dan duduk-duduk bersama di depan panggung, diantara juri dan panggung. Wahh mengagumkan, kami sebagai panitia sangat puas dengan ide gila penampilan mereka bahkan antusias penontonnya. 

Malamnya itu, satu misi kami selesai dengan sederhana. Kami menutup acara dengan segala rasa, campur aduk pokoknya. Kami meminta izin untuk kembali ke Padang esoknya. Dengan berat hati, kita harus berpisah. Semua panitia pamit ke beberapa tempat pemuda yang telah giat dan mendukung semua kegiatan kami, kami minta izin kepada kepala pemuda. Tempat Abang pemuda itu begitu klasik. 

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Mentawai

Tempatnya selain rumah, Abang tersebut suka menghias botol-botol dan menjadikan tempat duduk itu sebagai taman membaca.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Volunteer Mentawai

Di tamannya begitu banyak tanaman indah dan cantik, di sebelahnya begitu ada kerajinan kayu yang sangat unik dibuatnya sehingga menambah indahnya tempat itu. Malam itu juga, kami berkeliling desa, mencari tempat yang tenang untuk brefing. Kami duduk di tempat dekat dermaga. Kami menceritakan tentang semua pengalaman dan perasaan kami. Kami mengapresiasi segalanya. Sekali-kali kami menumpahkan air mata atas segala perjuangan kami sehebat ini, cerita itu diakhiri dan disaksikan oleh kapal-kapal kecil disekitar kami. 

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Tepian Dermaga

Yap, kami tidak akan melupakan semua pengalaman indah ini. 

Kami besok akan pulang dengan bahagia dan membawa sejuta cerita seru. Besok pagi kami sudah harus pulang. Dan pagi itu, kami menyelesaikan satu kegiatan lagi. Kami membagikan baju-baju, jilbab, pakaian dari bantuan masyarakat Padang teruntuk masyarakat Sioban yang memerlukannya. Kami berkeliling desa bersama-sama sembari membagikan barang-barang yang sudah kami bungkus oleh plastik dengan rapi itu kepada mereka. Pada akhirnya kami berpamitan kepada orang di rumah yang telah memberikan tumpangan tempat tinggalnya, kami mengucapkan terima kasih banyak. Kami pulang jam 11 siang menuju pelabuhan Tua Pejat dengan kapal kecil kembali. Kami meninggalkan desa dengan banyak haru. Kali ini, kami pastikan semua barang tidak ketinggalan, karena berat beban tidak seberapa lagi.  

Kami tiba di Tua Pejat jam 1 kurang, dan akan naik kapal cepat jam 3 siang. Setelah solat, kami pergi menyewa motor hingga kami naik sebanyak motor yang kami sewa, 7 motor. Kami bersama-sama menikmati naik turunnya jalanan, berkeliling-keliling kota Tua Pejat.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Icon Tua Pejat


Kami foto di salah satu ikon unik di kota Tua Pejat.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Tugu Patung Sikerei

Hingga kami pun berhenti dan duduk di salah satu pantai paling cantik di sana. Ini pemandangan potretnya, aslinya lebih cantik dari potret pantai ini.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html?m=1
Mentawai

Indah sekali, menakjubkan pantainya di sini. Saking terpesonanya kami lupa bahwa jam 2 kami harus berkumpul di dermaga. Sekarang sudah jam 2, kita kembalikan motornya seperti semula. Lalu pergi menuju kapal Mentawai Fast. Dengar namanya saja kapalnya sepertinya elit, tempat duduknya seperti di pesawat, ac-nya yang sejuk, bahkan tv-nya dihidupkan lagu kita yaitu lagu Minang yang menambah rindu atas kepulangan kami.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html
Di atas kapal Mentawai


Di atas kapal kita semua tidur, barangkali kelelahan.

https://www.sahabatulfah.com/2020/06/pengalaman-menjadi-volunteer-mentawai.html
Lantai Atas Kapal

Tapi sesekali juga kita naik ke lantai atas kapal yang tempatnya tidak ada jendela, bahkan bebas menyaksikan arus air lautan di sana, kita bebas menyaksikan lumba-lumba dan semuanya yang ada. 

Bagaimana! Terlalu asik ya, kisah pengalaman menjadi volunteer. Semuanya mengasikkan, mengesankan, menyenangkan, bukan? Tulisan ini, aku tutup dengan sebuah ucapan yang manis. Aku berterima kasih kepada Iyoin LC Padang yang sudah memberikan kesempatan berharga ini, terima kasih kepada semua teman-teman volunteer yang tanpa kalian kegiatan ini tak ada artinya, kalian sungguh luar biasa, terima kasih kepada orang yang telah menjemput ke dermaga pulang dan pergi Mentawai, terima kasih atas kepercayaan kedua orangtua kami, terima kasih banyak kepada semua masyarakat Mentawai, yang tanpa kalian pengalaman ini tidak kami dapatkan. Pokoknya aku sayang kalian semua, I love You So Much😍😍😘😘 

4 comments:

  1. Replies
    1. Thanks sudah ada dalam bagiannya kak, sehat2 kak :)

      Delete
  2. Lanjutkan jiwa petualang dan penolong mu dek, tetap berkreasi, semangat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat juga buat berkreasi bg, terima kasih udah berkunjung🔥🔥. Thanks for support :)

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya, don't forget tinggalkan jejak dan saling follow ya, thanks 🙏😊

Theme images by UteHil. Powered by Blogger.